
Selain faktor geopolitik Timur Tengah, kebijakan tarif AS turut memperkuat sentimen pasar terhadap aset aman.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump disebut masih melanjutkan agenda tarif yang berpotensi memicu ketegangan dagang dengan sejumlah mitra utama.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan arahan kenaikan tarif global hingga 15 persen akan ditandatangani jika diperlukan.
Sebelumnya, tarif impor 10 persen telah mulai berlaku setelah Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif resiprokal.
Analis Oversea-Chinese Banking Corp, Christopher Wong, menilai penguatan emas mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian tarif baru dan risiko geopolitik yang meningkat.





