
Ketika tunjangan terlambat cair, bukan hanya tekanan ekonomi yang dirasakan, tapi juga rasa tidak dihargai yang menggerus motivasi.
Sebaliknya, ketika guru mendapatkan perhatian dan insentif memadai, seperti yang dialami oleh guru honorer di SMA Negeri 5 Yogyakarta yang menerima tunjangan dari pemerintah daerah secara rutin, terjadi peningkatan signifikan dalam kualitas pengajaran dan keterlibatan mereka di kegiatan sekolah.
Menurut Dr. Ahmad Rifai, pengamat pendidikan dan dosen Universitas Lampung (Unila), kesejahteraan guru harus dipahami secara holistik, tidak hanya soal penghasilan, tetapi juga rasa aman, penghargaan, dan kepastian status kerja yang menjadi fondasi utama profesionalisme serta motivasi mereka dalam mengajar.
“Selama guru masih dihantui ketidakpastian finansial dan status kerja, sulit bagi mereka untuk berfokus dan berinovasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran,” tegas Rifai.
Hal ini diperkuat oleh penelitian terkini yang dipublikasikan oleh Pratama dan Wijaya (2025), yang menyatakan bahwa ketidakjelasan status kerja dan ketidakstabilan finansial adalah hambatan terbesar bagi guru honorer dalam memberikan kualitas pengajaran yang optimal.

