
Perbedaan utama antara guru honorer dan guru ASN terletak pada status kepegawaian yang menentukan hak atas penghasilan, tunjangan, serta akses terhadap jaminan sosial dan perlindungan hukum.
Guru ASN menikmati penghasilan yang relatif stabil, tunjangan profesi, serta kepastian karier yang jelas. Sebaliknya, guru honorer sangat bergantung pada kebijakan daerah dan insentif yang sering kali tidak konsisten dan tidak merata.
Ketimpangan ini semakin memperjelas kerentanan guru honorer yang selama ini kurang mendapat perhatian serius dalam tata kelola pendidikan nasional. Kondisi ini tidak hanya mengancam kesejahteraan guru honorer, tetapi juga kualitas pendidikan yang mereka berikan.
Dalam perspektif teori motivasi Herzberg (1966), faktor-faktor seperti pengakuan, kesejahteraan, dan keamanan kerja adalah motivator utama yang berperan penting dalam meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja.
Dengan status yang tidak pasti dan kesejahteraan yang minim, guru honorer sulit meraih motivasi intrinsik yang optimal untuk menjalankan tugas profesional secara maksimal.

