
Jika konteksnya Purwakarta artinya, ia sendiri, lalu dilanjutkan oleh Istrinya yang bisa dianggap telah gagal memimpin Purwakarta. Dibuktikan oleh banyaknya persoalan dalam konten-kontennya.
“Kita sebut saja kemiskinan, kesemrautan pasar, merajalelanya galian dan sebagainya. Konten-konten tersebut bukti bahwa kekuasaan yang dibangunnya buntu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. Bukti nyata, bahwa ia dan istrinya sebagai pejabat publik telah gagal,” demikian Agus Sanusi.(rmoljabar.id)







