Berdasarkan hasil verifikasi, diketahui bahwa Ati Nurhati, warga RT 44 RW 04 Kelurahan Nagrikidul, berangkat ke Kalimantan Barat bersama keluarganya setelah mendapatkan tawaran pekerjaan di perkebunan sawit melalui media sosial. Tergiur dengan iming-iming gaji besar, mereka nekat merantau tanpa melapor ke RT/RW setempat, meskipun keluarga telah menyatakan keberatan.
Namun, kenyataan di lapangan jauh dari ekspektasi. Biaya hidup yang tiga kali lebih mahal dibandingkan di Purwakarta, target panen sawit yang sulit terpenuhi, serta gaji yang hanya cukup untuk kebutuhan makan membuat keluarga ini terjebak dalam kondisi sulit. Selama 15 bulan di sana, anak-anak mereka tidak bersekolah karena keterbatasan akses jalan dan lokasi tempat tinggal yang terpencil.
Karena tidak memiliki ongkos untuk kembali ke Purwakarta, Ati Nurhati akhirnya mengirim email kepada Dinas Sosial Purwakarta untuk meminta bantuan pemulangan, tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Ketika Dinsos mengonfirmasi kondisi tersebut kepada keluarganya di Purwakarta, mereka terkejut. Bahkan, ayah Ati, yang memiliki riwayat penyakit sesak napas, mengalami syok hingga harus dilarikan ke rumah sakit karena terpukul dengan situasi yang menimpa anak dan cucunya.
Setelah memastikan kebenaran laporan, TRC Dinsos P3A, Baznas, dan PSM Kelurahan Nagri Kidul berkoordinasi dengan pihak terkait di Kalimantan Barat untuk mengatur kepulangan keluarga tersebut.







