Akibat keterbatasan bahan baku, Heri mengaku hanya mampu memproduksi sekitar 15 kilogram kolang kaling per hari.
Jumlah itu, kata dia, jauh dari cukup jika dibandingkan dengan permintaan yang biasanya melonjak menjelang Ramadan.
“Dalam sehari paling 15 kilo saja. Itu pun kalau dapat buah arennya,” katanya.
Heri membangun lapak dadakan di pinggir jalan, dengan beratapkan terpal berwarna biru, produksi kolang kaling yang dikerjakan bersama sanak saudara tetap bisa berlangsung, meski kerap hujan turun. Di lapak tersebut, masyakarat yang ingin membeli bisa menyaksikan langsung proses pembuatannya.
Proses pengolahan kolang kaling sendiri memerlukan ketelatenan.
Heri mengatakan, setelah buah aren diperoleh, buah tersebut didiamkan selama satu hari. Selanjutnya, lanjut dia, direbus selama beberapa jam hingga matang, lalu ditiriskan.





