
Di titik ini, tubuh beralih membakar lemak dan mengubahnya menjadi keton. Menariknya, keton bukan hanya sumber energi alternatif, tetapi juga berfungsi sebagai molekul sinyal yang membantu sel meningkatkan daya tahan terhadap stres oksidatif serta memperbaiki kerusakan DNA.
3. Memulihkan Sensitivitas Insulin
Puasa juga terbukti efektif membantu mengatasi resistensi insulin, salah satu pemicu utama diabetes tipe 2. Penelitian dalam World Journal of Diabetes (2017) menunjukkan bahwa jeda makan secara teratur mampu menurunkan kadar insulin dalam darah.
Efeknya ganda. Pertama, tubuh lebih mudah membakar lemak karena kadar insulin rendah membuka akses ke cadangan energi. Kedua, kadar gula darah menjadi lebih stabil dalam jangka panjang, sehingga risiko gangguan metabolik dapat ditekan.
4. Efek Neuroprotektif bagi Otak
Manfaat puasa ternyata tidak berhenti pada fisik. Mark Mattson, ahli neurosains dari Johns Hopkins University, menemukan bahwa puasa merangsang produksi protein BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor).





