Syamsi menegaskan, seluruh proses verifikasi data jemaah hanya dilakukan melalui jalur resmi, seperti aplikasi layanan haji maupun secara langsung di kantor, bukan melalui komunikasi pribadi.
“Tidak ada proses seperti itu lewat telepon atau WhatsApp, semuanya resmi,” tegasnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar calon jemaah Purwakarta untuk tidak memberikan data pribadi kepada pihak mana pun, terutama kode OTP yang bersifat rahasia.
“Jangan pernah kasih OTP atau data pribadi ke siapa pun,” pesannya.
Syamsi juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap komunikasi yang tidak jelas sumbernya.
“Kalau ada yang mencurigakan, langsung konfirmasi saja ke kantor Kemenhaj Purwakarta,” lanjutnya.
Selain itu, Syamsi juga meminta masyarakat untuk tidak mengklik tautan mencurigakan atau mengunduh file berformat .apk dari nomor yang tidak dikenal, karena berpotensi menjadi upaya pencurian data (phishing).
“Jika menerima komunikasi mencurigakan, jemaah Purwakarta diminta segera menghentikan percakapan dan melakukan verifikasi langsung ke petugas resmi di kantor Kemenhaj Purwakarta. Di tengah tingginya antrean haji, potensi penyalahgunaan situasi tersebut dinilai perlu diwaspadai,” pungkasnya. (*)





