Namun esensinya tetap sama, yaitu berbagi dan menjaga silaturahmi, terutama setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Meski zaman berubah, Nganteuran menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat.
Tradisi ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang kehangatan hubungan antar manusia yang tetap relevan, bahkan di era serba digital sekalipun. (Red)





