Mereka lebih memilih memutar dana tersebut pada berbagai aset investasi lain yang imbal hasilnya jauh lebih tinggi dibandingkan bunga pinjaman bank.
“Individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi berpikir berbeda tentang likuiditas dan leverage. Mereka lebih suka membiarkan uang mereka bekerja dalam investasi atau bisnis, daripada mengikat semuanya dalam satu properti,” kata Miltiadis Kastanis, direktur eksekutif penjualan di Compass, dikutip di Purwakarta, Selasa (10/3/2026).
Jejak serupa juga terlihat pada gaya finansial bos Meta, Mark Zuckerberg. Sebagai salah satu miliarder dunia, Zuckerberg pernah membiayai kembali (refinancing) rumahnya di Palo Alto dengan bunga variabel hanya 1,05 persen.
Baginya, mencairkan saham demi membayar rumah secara tunai adalah kerugian besar ketika biaya pinjaman jauh lebih murah daripada potensi pertumbuhan nilai sahamnya.
Pilihan mengambil kredit properti ini juga dipicu oleh kalkulasi yang matang. Jika mereka yakin investasi di bisnis bisa menghasilkan keuntungan 10-20 persen setahun, maka membayar bunga bank yang hanya sekitar 3-5 persen tentu menjadi langkah yang menguntungkan secara matematis.





