
Asgar membutuhkan dana sekitar Rp48 juta untuk tiket, visa, dan kebutuhan keberangkatan yang harus dilunasi sebelum 30 September 2025. Hingga kini, ia baru mengumpulkan donasi Rp5,9 juta atau sekitar 12% dari total kebutuhan.
“Saya terus berusaha, mengetuk pintu-pintu hati. Saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang ingin menuntut ilmu,” ujarnya penuh harap.

Upaya Asgar tidak berhenti di masyarakat. Ia juga telah mengajukan proposal ke berbagai instansi pemerintah, baik di tingkat daerah maupun provinsi.
Namun, jawaban yang diterima hampir seragam: tidak tersedia anggaran untuk kebutuhan tersebut. Padahal, semua biaya pendidikan dan hidupnya di Yaman ditanggung lembaga pemberi beasiswa.







