“Teori cukup di kelas satu. Kelas dua dan tiga harus sudah kembangkan program magang. Ini tujuannya dua; mendapat pengalaman nyata dan menurunkan biaya produksi pendidikan. Industri akan tumbuh, dan beban orang tua berkurang karena anak sudah bisa mandiri,” tambahnya.
Lebih jauh, Gubernur menargetkan peningkatan kuota program beasiswa industri hingga 400-800 orang untuk mencetak manajer HRD dari putra daerah. “Kita harus menciptakan HRD dari masyarakat Jawa Barat sendiri agar mereka dipercaya industri dan menjadi lokomotif bagi lingkungannya,” terangnya.
Ketua Yayasan SMK Mitra Industri MM2100, Darwoto menyatakan kesiapannya untuk melakukan supervisi dan akselerasi pendidikan vokasi di berbagai kawasan industri di Jawa Barat.
“Kami mengapresiasi kolaborasi ini. Melalui supervisi di MM2100 dan kawasan lainnya, kita ingin memastikan industri merasa nyaman beroperasi di Jawa Barat karena didukung SDM berkualitas. Di sisi lain, masyarakat harus merasakan manfaat nyata dari hadirnya industri di wilayah mereka,” ungkapnya.
Dukungan juga datang dari Dirjen Pendidikan Vokasi periode 2020-2022, Wikan Sakarinto. Ia menilai, langkah Pemprov Jabar sebagai gebrakan konkret yang sangat kontekstual karena mengadopsi success story (kisah sukses) dari sekolah yang sudah memiliki track record global.





