Purwakartaupdate.com – Krisis energi akibat perang di Timur Tengah mendorong China meninjau ulang proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang selama ini tertunda. Gangguan pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap keamanan energi Beijing.
Dikutip oilprice, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menghentikan aliran minyak dan LNG dari Teluk. Jalur tersebut selama ini menyalurkan sekitar 40 persen impor minyak dan 30 persen LNG China.
Kondisi ini membuat Beijing menghadapi potensi kehilangan pasokan minyak murah dari Iran serta ancaman gangguan pasar yang berkepanjangan.
Tekanan itu membuka kembali pembahasan proyek pipa sepanjang 2.600 kilometer yang akan mengalirkan gas dari Semenanjung Yamal di Rusia ke China melalui Mongolia.
China mulai mempertimbangkan kembali ketergantungan pada jalur laut dan meningkatkan minat pada pasokan energi darat.





