Ia menyebut, berbagai modus digunakan penipu untuk menjalankan aksinya. Mereka kerap memanfaatkan platform jual beli online, media sosial, atau bahkan forum pecinta kucing.
“Kepercayaan calon pembeli dibangun secara sistematis, hingga akhirnya korban terjebak dan mengalami kerugian finansial. Modusnya seperti kucing tidak sesuai deskripsi yang ditawarkan, kucing tidak dikirim, penipuan berkedok ongkos kirim hingga penipuan dengan sistem COD (Cash On Delivery) palsu,” jelas Edwin.
Ia mencontohkan, kucing tidak sesuai deskripsi yang ditawarkan, biasanya penipu mengunggah foto kucing ras tertentu yang menarik, namun mengirimkan kucing kampung atau kucing dengan kondisi kesehatan yang buruk. Pelaku seringkali mengaburkan detail fisik kucing dalam deskripsi atau menggunakan foto kucing yang bukan milik mereka.
“Modus penipuan lainnya, yakni setelah korban melakukan pembayaran secara transfer, penipu menghilang tanpa mengirimkan kucing yang dijanjikan. Komunikasi terputus, dan nomor kontak yang digunakan pun tak aktif lagi. Ini merupakan modus paling umum dan seringkali sulit dilacak,” tutur Edwin.
Kemudian, penipuan berkedok ongkos kirim, kata dia, penipu biasanya meminta pembayaran tambahan dengan alasan biaya pengiriman yang tinggi atau biaya administrasi lainnya setelah pembayaran awal dilakukan. Setelah pembayaran tambahan dilakukan, kucing tetap tidak dikirim.
“Yang paling harus diwaspadai yakni penipuan dengan sistem COD palsu. Modusnya penipu menawarkan transaksi COD, namun saat bertemu, mereka tidak membawa kucing yang dijanjikan, atau kucing yang dibawa berbeda jauh dari yang ditawarkan. Atau, mereka bisa saja tidak datang sama sekali,” ujarnya.
Untuk mencegah penipuan, kata Edwin, langkah awal yang krusial adalah memastikan identitas penjual dan keaslian kucing yang ditawarkan.





