Hilangnya adab pada generasi muda, kata dia, disebabkan oleh lemahnya keteladanan, pengaruh negatif media sosial, dan minimnya pendidikan moral di keluarga serta sekolah.
“Ketika seorang pelajar sudah tidak menghargai gurunya, dengan berperilaku tidak sopan dan tidak beradab itu menunjukkan bahwasanya harus ada perhatian serius terhadap pembentukan karakter. Pembentukan karakter tidak hanya di sekolah saja, tapi di lingkungan keluarga maupun di lingkungan mereka tempat bermain. Karena banyak hal dan faktor yang bisa menyebabkan perubahan karakteristik seorang anak,” jelas Gilang.
Menurutnya, ini bukan hanya tentang siapa yang salah, tapi tentang apa yang perlu diperbaiki bersama. “Sekolah, keluarga, dan lingkungan memiliki peran yang tidak bisa dipisahkan dalam membentuk karakter generasi muda,” tegas Gilang.
Ditengah era digital seperti sekarang, kata dia, akses mudah ke informasi, konten negatif, dan anonimitas memicu perilaku tidak sopan, kotor hingga perundungan.
“Dampak krisis adab yakni banyak generasi muda kehilangan makna adab sebagai landasan berinteraksi. Kemudian munculnya ketidakpedulian atau empati hilang sehingga kurangnya rasa hormat dan empati, baik secara langsung maupun di dunia digital. Dan munculnya budaya bercanda berlebihan dan kurang etika,” ujarnya.
Untuk memperbaikinya, menurut Gilang, perlunya pendidikan karakter yang mengajarkan adab sejak dini dengan contoh konkret di rumah dan sekolah.
“Kemudian harus ada pengawasan gadget, sehingga mengarahkan penggunaan teknologi agar tidak melanggar nilai moral. Lalu memilih teman yang baik untuk mendukung kepribadian,” Tutur Gilang.





