“Batur saur milu saur, batur buka milu buka
Ti beurang batur puasa, manehna jajan samangka”
Penggalan lirik Tuturut Munding itu seperti selalu menemukan momentumnya setiap Ramadan tiba.
Lagu religi Sunda karya Doel Sumbang ini bukan sekadar nostalgia sahur era 1990-an. Ia seperti pengingat yang diam-diam menegur bahwa ketika orang lain menahan lapar, selalu ada yang memilih “jajan samangka” di siang bolong.
Kalimatnya terdengar ringan, bahkan sering dinyanyikan sambil tertawa. Namun justru karena terdengar biasa, sindirannya terasa lebih ‘Jos’.
Lebih dari Sekadar Lagu Religi
Sejak dirilis pada 1990-an, Tuturut Munding sudah menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Jawa Barat. Refrain-nya akrab di telinga warga yang dibangunkan sahur. Ia seperti lagu wajib yang tak pernah diminta, tapi selalu ada.
Namun jika disimak pelan-pelan, makna Tuturut Munding tidak sesederhana lagu pengiring kentongan.
Secara harfiah, tuturut munding berarti mengikuti kerbau. Dalam budaya Sunda, ini sindiran bagi orang yang berjalan tanpa pikiran sendiri alias ikut-ikutan, tanpa pertimbangan. Kerbau berjalan lurus mengikuti jalur, tak peduli ke mana arah dibawa.
Doel Sumbang meminjam metafora itu untuk menggambarkan perilaku sosial yang terasa akrab. Ketika yang lain berbuat baik, kita ikut. Ketika yang lain menyimpang, kita pun tak keberatan terseret.
Di situlah fenomena Ramadan yang disinggung dalam liriknya terasa nyata. Ketika sebagian orang berusaha khusyuk, selalu ada yang memilih abai.
“Manehna Jajan Samangka”, Sebuah Potret Sosial
Di tengah suasana puasa, lirik “ti beurang batur puasa, manehna jajan samangka” bukan sekadar humor.
Ia potret kecil yang terasa nyata. Selalu ada yang memilih berbeda. Selalu ada yang merasa aturan bisa dinegosiasikan.
Doel Sumbang sendiri pernah menegaskan bahwa lagu religi ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan.
“Kami hanya ingin mengingatkan bahwa di bulan puasa, ada kewajiban yang harus dipenuhi, terutama bagi umat Muslim. Namun, kenyataannya, banyak di antara mereka yang justru melanggar. Lagu ini menyindir perilaku tersebut,” jelasnya seperti dikutip MaveMagz pada 2025 lalu.





