
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana (Keplak) program, Riska Amanda dan Salwa Nabila, menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dalam inovasi yang mereka gagas.
Menurutnya, tujuan utama Gema Tangkas adalah mendorong kemandirian petani agar mampu memproduksi fungisida sendiri secara rutin dengan bahan yang mudah diperoleh. Selain menekan biaya produksi, metode ini juga dinilai lebih aman bagi ekosistem tanah dalam jangka panjang.
“Tujuan utama kami adalah kemandirian petani. Dengan bahan yang murah dan mudah didapat, petani bisa memproduksi fungisida sendiri secara rutin. Ini bukan hanya tentang mengobati penyakit tanaman, tapi juga menjaga ekosistem tanah agar tetap sehat dalam jangka panjang,” jelas Riska dan Salwa.
Program yang dijalankan mahasiswa KKN UNSIKA ini mendapat sambutan positif dari para petani. Ketua Kelompok Tani Desa Taringgul Tengah, Sobandi, mengaku metode pembuatan fungisida nabati yang diajarkan tergolong mudah dan memberikan harapan baru bagi petani dalam menghadapi penyakit blas.





