
Namun ada satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: di mana wakilnya?
Dalam hampir setiap konten yang beredar, publik jarang atau bahkan tak pernah melihat kebersamaan keduanya. Padahal bupati dan wakil bupati bukan dua entitas terpisah.
Mereka adalah satu paket mandat rakyat. Dipilih bersama. Dijanjikan bersama. Dipercaya bersama.
Jika benar seorang wakil merasa tidak dilibatkan, maka ini bukan soal eksistensi personal. Ini soal tata kelola. Soal komunikasi. Soal kesadaran bahwa kepemimpinan daerah bukan panggung tunggal.
Kepemimpinan yang terlalu berpusat pada satu figur berisiko menciptakan kesan: kerja adalah milik satu orang, sementara yang lain sekadar pelengkap administratif.

