Leaflet DISPORAPARBUD Terkesan Pelecehan, Pemerhati Purwakarta Kritik Soal Itu

PURWAKARTAUPDATE.com -Sosialisasi anjuran Prokes melawan Pandemi Covid-19 oleh berbagai instansi sedang gencar-gencarnya dengan berbagai cara, salah satunya yang dilakukan oleh Disporaparbud Purwakarta dengan membuat LEAFLET digital.

Jaga jarak, Aktif Mencuci tangan, Nikmati bersama keluarga, Diupayakan memakai masker, Ayo lakukan vaksin “JANDA” dengan dipasang gambar Wanita seolah olah itu akan lebih menarik.

Menyikapi hal itu, salah satu pemerhati Purwakarta Agus Yasin mengatakan bahwa itu Cenderung tidak mendidik dan terkesan melecehkan.

“Sayang dengan menggunakan akronim “JANDA” dengan konotasi yang dipaksakan, adalah sebuah ide dan nalar yang payah,” jelas agus saat dimintai keterangan sambung selluler, Minggu (11/7/2021).

Baca Juga:  Sandiaga Uno: Lulusan Fakultas Psikologi Unisba Punya Keunggulan dan Loyalitas

Terlebih Agus mengatakan, dengan konotasi kata tersebut akhirnya menjadi gurauan yang membuat sesuatu lebih jadi olok-olok termasuk persoalan pandeminya.

“itu tidak mendidik dan cenderung melecehkan terhadap status wanita yang sudah tidak bersuami akibat cerai hidup atau cerai mati,” tegas Agus.

Ironisnya, dinas yang membuat selebaran itu tidak cukup pandai mencari ide dan memilih kata untuk dijadikan akronim, untuk suatu pesan layanan masyarakat.

“Apakah kata “JANDA” itu cukup kreatif untuk sebuah makna buat pesan layanan masyarakat, atau sekedar untuk memuaskan naluri orang orang perundung status wanita…?,” Jelas Agus berkata.

Baca Juga:  Perahu Tabrak Tunggul Kayu, Satu Orang Hilang di Waduk Jatiluhur

Persoalan ini menggambarkan krisis moral telah mengendap di diri orang yang melahirkan ide. Seharusnya lebih bijak memilih kata untuk dijadikan pesan layanan masyarakat, paparnya.

Sambung Agus, Bupati Purwakarta itu seorang wanita, bayangkan kalau beliau yang mengsosialisasikan pesan itu dengan akronim “JANDA”, tidakah akan melukai wanita-wanita penyandang status itu termasuk orang tua dan kerabatnya.

Lebih jelas Agus berkata, Pandemi memang masih jauh dari kata selesai, tetapi Pemerintah Daerah melalui Dinasnya jangan melakukan kebodohan dengan memilih kata yang bisa berdampak buruk terhadap “MARWAH” Pemerintahan termasuk “STIGMA” Pemimpin Daerahnya.

Baca Juga:  Universitas Sangga Buana Gelar Orientasi Internasional Bidang Studi Teknik Informatika

“Wibawa daerah akan ternoda dengan sebuah ide murahan ditunjang biaya mahal,” akhir kata Agus menyampaikan.