Dedi menegaskan bahwa nilai utama ibadah tidak terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada kemampuan seseorang membangun hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Ia menilai ketenangan dan perenungan dapat dilakukan di berbagai tempat selama seseorang mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya.
“Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Bertafakur di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkasnya.(*)





