
Menurut mereka, kreativitas kini seolah diarahkan ke ruang-ruang komersial. Diskusi harus dilakukan di kafe, bermusik harus menyewa studio, dan pameran kecil harus memiliki biaya produksi.
Bagi pemuda yang hanya bermodal gagasan tanpa dukungan finansial, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri.
Koordinator Umum Kopel, Rangga, menyebut inovasi pemuda seharusnya dipandang sebagai investasi daerah.
“Inovasi pemuda adalah investasi daerah. Jika untuk berkumpul saja harus membayar, bagaimana dengan mereka yang tak punya daya beli?” ujarnya.
Fenomena ini disebut sebagai matinya “ruang ketiga”, ruang di luar rumah dan tempat kerja atau sekolah, tempat orang bisa berkumpul, berdiskusi, dan membangun solidaritas secara organik.





