
Ruang tersebut, menurut mereka, perlahan tergantikan oleh pusat komersial dan interaksi digital.
Ketua Dewan Pembina Kopel, Ikhsan Kamil, bahkan menilai kondisi ini berpotensi mendorong talenta muda hengkang ke kota lain.
“Para seniman dan anak muda kreatif Purwakarta pada akhirnya bisa saja pindah ke Bandung atau Jogja untuk berkembang. Di sini tidak ada ruang ketiga,” katanya.
Ia berharap pemangku kebijakan lebih peka terhadap kebutuhan ruang ekspresi generasi muda. Kota yang hidup, menurutnya, bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga ruang kebebasan berekspresi.
Komunitas Pena dan Lensa (Kopel) Purwakarta sendiri merupakan wadah kreatif generasi muda yang berdiri sejak 2016.





