Pandemi Covid-19, Pedagang Bendera Musiman di Purwakarta Sepi Penjualan

PURWAKARTAUPDATE.com | Memasuki bulan Agustus, penjual bendera musiman di Kabupaten Purwakarta sudah menjamur. Pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat para penjual bendera ini untuk mencari berkah perayaan HUT ke-76 RI.

Semarak perayaan kemerdekaan terasa hampa tanpa jasa penjual bendera. Para penjual bendera musiman ini kebanyakan berasal dari luar Kabupaten Purwakarta, seperti hal nya yang dilakukan Iwan Hermawan (51) penjual bendara asal Kabupaten Garut.

“Saya dari Garut. Ini tahun ke-15, saya berjualan bendera di Kabupaten Purwakarta ini,” ucap Iwan saat ditemui di lapak jualannya di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Cipaisan, Purwakarta, pada Senin (2/8/2021).

Diakui, dibanding tahun lalu, penjualan bendera tahun ini lebih lesu dibanding tahun lalu. Bahkan, dalam dua hari ini, baru laku dua bendera merah putih ukuran sedang.

“Penjualan sekarang memang turun drastis. Cuma dapat keuntungan hingga 20 persen saja. Padahal tahun lalu masih lumayan, bisa dapat keuntungan 50 persen,” keluhnya.

Baca Juga:  Zero Penyakit Ternak, Pemkab Purwakarta Membuka Kembali Pasar Hewan Ciwareng

Namun, sambung dia, tahun ini dia ragu bisa membawa pulang uang seperti tahun sebelumnya.

Diakui Iwan, tahun ini menurunnya omzet dikarenakan hilangnya pelanggan yang biasa membeli. Mulai dari anak sekolah yang belajar di rumah, perkantoran yang bekerja di rumah, hingga masyarakat yang ketakutan untuk keluar rumah atau membeli barang dari tangan ke tangan.

“Ya nggak apa-apa, karena kan masih bisa disimpan, dijual lagi tahun depan. Tapi ya saya terus berusaha dan semangat sampai tanggal 17 Agustus nanti,” ucap Iwan.

Setiap tahun, Iwan selalu membuka dagangan sejak akhir Juli dan berakhir sehari sebelum tanggal 17 Agustus.

Barang yang dijual pun beragam jenisnya mulai dari bendera merah putih dengan berbagai ukuran kecil hingga besar.

Baca Juga:  Seminar Internasional Barahmus Ungkap Keberadaan Benda Bersejarah Indonesia

Kemudian layur, umbul-umbul bandir dengan lambang Garuda, dan umbul-umbul berbentuk segitiga.

Selain bendera dia juga menjual bambu sebagai tiang pancang bendera maupun umbul-umbul.

“Bendera yang saya jual pun beragam harganya, mulai 15 ribu rupiah hingga 200 ribu rupiah per satu bendera. untuk ukuran paling kecil di jual dengan harga 15 ribu rupiah ukuran kecil, ukuran sedang 35 ribu rupiah, dan ukuran yang paling besar 100 ribu rupiah per bendara. Sedangkan untuk umbul-umbul di Banderol Rp. 25 ribu rupiah hingga Rp. 200 ribu rupiah,” ungkap Iwan.

Kondisi tak jauh berbeda dari Iwan juga dialami Yana Suryana (58) penjual bendera di jalan Veteran, Kelurahan Ciseureuh, Purwakarta.

Yana mengaku sudah berjualan sejak tanggal 30 Juli lalu, namun pembeli yang mampir baru sebahagian saja.

“Ngga cuman satu pedagang kang yang sepi. Semua juga begitu. Malah ramai tahun-tahun sebelumnya. Sebelum ada Corona,” ungkap pria yang berjualan bendera sudah lebih dari 15 tahun itu.

Baca Juga:  Video: Truk Kontainer Tabrak Gardu Tol Karawang Barat 2 Hingga Terguling

Dia menjelaskan, biasanya menjelang 7-10 hari sebelum kemerdekaan pembeli kerap berdatangan. Namun, tahun ini dia ragu pembeli sama seperti tahun sebelumnya.

“Tapi ya nggak tahu kalau kondisi Corona begini tetap ramai nggak. Kegiatan keramaian kan masih dilarang,” ucap dia.

Dia mengaku pelanggan yang biasa membeli rata-rata dari instansi perkantoran, perangkat kampung, maupun warga biasa.

“Akibat dampak virus corona para pedang bendera mengaku omzet mereka menurun sekitar 50 persen dari tahun lalu. Jadi kami berharap, Pemerintah Kabupaten Purwakarta memberikan kelonggaran kepada kami, untuk berjualan di tepi jalan, setidaknya selama jelang momentum hari kemerdekaan. Mudah-mudahan rame meskipun musim Pandemi Covid-19 seperti ini,” harap Yana.(Gin)