Dedi Mulyadi: Balikan Cara Bertani ke Habitat Aslinya, Petani Harus Belajar Pertanian Organik

PURWAKARTAUPDATE.com | Wakil Ketua DPR-RI Komisi IV dari Fraksi Golkar Dedi Mulyadi berikan bantuan Aspirasi Alsintan (alat dan mesin pertanian) melalui Kementerian Pertanian yang disalurkan oleh Dinas Pertanian Purwakarta. Dalam kesempatan itu Dedi Mulyadi membagikan secara simbolis langsung kepada setiap perwakilan Gabungan Kelompok Tani (gapoktan). Bertempat di Desa Cilandak Kecamatan Cibatu. Purwakarta, Jumat (2/7/2021).

Keseluruhan bantuan aspirasi itu ada sekitar 57 unit mesin Traktor roda dua dan 16 unit Power Thresher yang akan dibagikan kepada kelompok tani perwilayah di Purwakarta secara bertahap.

Dalam sambutannya wakil Ketua DPR-RI Dedi Mulyadi mengatakan bahwa dengan adanya bantuan Traktor dan Power Threser bisa sedikitnya mengurangi beban biaya parapetani di Purwakarta.

Semoga dengan adanya bantuin ini biaya sawah bisa sedikit murah karena tidak mengkulikan, umumnya biaya bajak sawah satu hektar bisa 1 juta, kalau dengan kelompok tani dan adanya bantuan mesin mungkin bisa lebih sedikit ringan paling abis 500 rb dengan Bbm dan ganti oli serta biaya perbaikan lainnya.

Menurutnya, kedepan Dinas Pertanian harus buatkan bengkel agar bantuan dari pemerintah ini tidak mubajir/beku bila rusak bisa langsung di perbaiki. Mesin ini kalau sengaja beli mahal bisa mencapai 25 jt hingga 30 jt, susah kalau sengaja mengumpulkan untuk beli sendiri ini tinggal pakai dan merawatnya saja jangan sampai dapat beli dirawat kalau di kasih dibiarkan, manfaatkan bantuan mesin ini agar tahun depan program seperti ini bisa ditingkatkan lagi. Semoga para kelompok petani semuanya pada sehat dan makmur.

Baca Juga:  Maula Akbar Jumpai Remaja yang Bantu Ayahnya Jualan Topi di Pinggir Jalan Purwakarta

Titip ke aparat desa kedepannya ini sawah jangan keterusan dikorbankan buat kepentingan yang lain. Sebab, suatu saat pabrik macet dan sawah tidak ada mau makan dimana, kaduanya sawah punya fungsi estetika keindahan kalau bapak-bapak tidak percaya silahkan datang dan lihat dilembur pakuan, sawah sekecil ini juga bisa dijadikan fungsi keindahan sama halnya sawah ini kalau kepala desanya cemerlang ini bisa dijadikan maafkan potensi wisata karena disini ada masjid dekat dengan kantor desa, ada halaman juga jadi tinggal penataannya saja. Selain itu rumah warga juga bisa dimanfaatkan menjadi tempat wisata kuliner dengan menghadap ke depan sawah jadi indah dan sejuk, ini potensi bagus sebetulnya tinggal kreatifnya.

“bagi calon kepala desa wayahna ini manfaatkan buat pengembangan wisata, agar bisa lebih indah lagi karena berdekatan dengan kantor desa, masjid dan industri,” kata Dedi

Lanjut dalam acara Dedi bercerita kepada para petani bahwa sekarang musim hama tikus sawah bisa rusak hancur, sebab ularnya tidak ada. Coba dinas pertanian belajar teknologi alam seperti di kota Bali dan Karawang yang sudah ada desa yang berhasil mengembangkan ternak burung hantu (buek) pemakan hama tikus. Ular sudah jarang alias ampir tidak ada, karena itu tadi manusianya kadang hama kaya Ular gitu dimatiin padahal itu jangan karena ular bisa makan tikus, nah tikus dan ular nanti bisa buat makan burung hantu (buek). Jadi sebetulnya hama kaya gitu jangan dipunahkan, sebab alampun punya siklus makan ekosistem yang dinamakan rantai makanan, terangnya.

Baca Juga:  Modus Ngaku Polisi, Tiga Perempuan di Plered Jadi Korban Pencurian HP

“Coba nanti saya mau bikin percontohan mengembangkan ternak burung hantu di setiap desa, perkampungan yang sawahnya sedikitpun kembangkan burung hantu,”

Harusnya kepala desa bikin peraturan budaya desa seperti yang sudah dibuatkan dulu aturannya tidak boleh ambil ular, nyetrum belut, ngambil burung hantu, nebang pohon disisi sawah (gawir) itu tidak boleh. Usia pohon yang boleh ditebang berapa itu semua ada aturannya, dengan begitu bisa lebih bermanfaat buat pertanian jadi bohong kalau berfikir pertanian tidak berfikir ekosistem.

“Sekarang saya lagi ngesahkan perubahan UU Ekosistem agar pertanian jadi makmur kalau ekosistem habitatnya kejaga, tapi kalau habitatnya hancur pertanianpun akan hancur. Sabab, petani bakal mati pedagang tinggal ngutang, tidak semua petani harus mengandalkan obat saja, tidak bisa kalau pertanian sama pupuk saja di obat saja bakal bangkrut,” tegas Dedi Mulyadi kepada para petani.

Jadi balikan lagi habitatnya, biarkan sawah ada belutan, genjeran, jangan dijadikan kebiasaan rumput di matiin di semprot ,itu jangan. klau rumput dimatiin terus nanti peyakit bisa nerka, karena ada siklusnya jangan sampai hama atau belut dll yang ada di sawah diambil itu bisa membuat ancur. Jadi robahlah cara pertaniannya.

“Kalau berbicara soal karuhun (leluhur) itu bukan musrik tapi balik lagi ke tradisi dahulu cara bertaninya, leluhur itu gak pernah matiin ular, burung, gak pernah ngobat sawah, padi, tambah meleum menyan (bakar madat), itu pungsinya agar asap nyebar nah kalau nyebar nanti bisa mendatangkan hewan predator pemakan hama bukan ngundang jurig alias setan, jadi harus pakai ilmu bertaninya.” Kata Dedi Mulyadi sambil tertawa gembira karena melihat kebahagian para petani mendapat bantuan.

Baca Juga:  Vaksinasi Drive Thru Presisi yang Digagas Polres Purwakarta Makin Diminati Masyarakat

Lanjut Dedi, petani sekarang harus bisa belajar percontohan pertanian organik, yang kebutuhannya hanya kotoran hewan (kohe) cukup dengan pelihara domba, sapi, Nanti kohenya bisa jadi pupuk, rumputnya bisa buat makan domba dan sapi, jadi kalau belajar ngembangkan pupuk organik bisa jadi pertanian organik seperti beras organik, sayuran organik, buah organik hingga warga bisa buka konter organik, buatlah rumah organik pasti orang dari luar kota akan datang mencarinya.

“Dengn adanya bantuan alat ini semoga bermanfaat , jangan diam saja dengan yang saya sampaikan tadi segera bikin perencanaan bila berjalan sponsornya sudah ada nanti saya yang hadirkan,”

Pesan Dedi jangan berhenti bertani dan belajaah cara konsep pupuk organik agar bisa mandiri, harus bisa belajar bikin pupuk sendiri dengn memelihara hewan ternak nanti hewannya kedapan ada bantuan lagi kalau para petaninya sunguh-sunguh. Kepada dinas pertanian Purwakarta harus bisa mengajarkan petani cara berlatih bikin pupuk organik agar kedepannya para petani bisa mandiri, tutup Dedi.

Salah satu Ketua Gapoktan dari Desa Cijaya. Pak Udin, penerima mesin traktor roda dua mengucapkan terimakasih banyak kepada Pak Dedi Mulyadi.

“Alhamdulillah berkat bantuan beliau yang sudah sangat ditunggu ini sudah cepat tersampaikan kepada kami, semoga ini bisa bermanfaat bagi kami dan kami akan menjalankan pesannya sesuai apa yang beliau sampaikan kepada kami, terimakasih pak Dedi Mulyadi,” ringkas Udin.