“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya kepada awak media, Senin (20/4/2026).
Ia juga memastikan tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum. “Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat,” katanya.
Menurutnya, kenakalan remaja bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. “Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” ungkapnya.
Dalam kejadian tersebut, Bu Atun menjelaskan bahwa dirinya hanya berusaha menegakkan aturan di kelas serta menjaga kenyamanan proses belajar mengajar bagi seluruh siswa.





