Ia pun tidak menyadari bahwa interaksi yang terjadi saat itu direkam hingga akhirnya tersebar luas di media sosial.
“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” tuturnya.
Meski sempat merasakan kesedihan, ia memilih untuk menguatkan diri dengan nilai-nilai keimanan.
“Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat,” ucapnya.





