Sebagai guru yang telah mengabdi sejak 2003, Bu Atun mengaku baru pertama kali mengalami kejadian serupa. Namun hal tersebut tidak mengurangi komitmennya untuk terus menanamkan pentingnya adab dan pendidikan karakter kepada para siswa.
“Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing,” katanya.
Bu Atun berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama, baik bagi siswa, sekolah, maupun masyarakat.
“Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak,” pungkasnya. (Red)





